The world's largest sports betting platform_The world's largest sports betting platform_Baccarat rules table_Crown Football Betting Network_Texas Hold'em

  • 时间:
  • 浏览:0

Dikutip dEuEuropeaEuropean mainstream betting companyn mainstream betting companyropeaEuropean mainstream betting companyn mainstream betting companyari kapanlagi.com, sang seniman menganggap acara yang dihadirkannya beberapa waktu lalu tersebut murni adalah manifestasi seni. Acara yang telah digelarnya sebanyak dua kali ini dianggap sebagai bentuk kegelisahannya atas konsumsi ASI dan juga praktik stem cell dari plasenta yang menurutnya mirip dengan tindakan kanibalisme dalam bentuk seni. Nggak cuma itu, acara ini juga diklaim sebagai bentuk eksperimen sosial, salah satunya dengan membicarakan hal tabu yang terkait dengan kanibalisme.

Acara ini semakin dikecam setelah Natasha melalui akun Instagramnya @roodkapje menyatakan kalau hidangan yang disajikan pada malam itu terbuat dari ekstrak keringat ketiak bayi dan Air Susu Ibu (ASI) sungguhan. Dia berterima kasih kepada mereka yang sudah membantu suksesnya acara ini. ASI yang didapatkan berasal dari sebuah asosiasi menyusui di Yogyakarta. Namun, setelah diprotes oleh AIMI Jogja karena merasa nggak pernah terlibat, Natasha pun akhirnya meminta maaf karena kesalahan penyebutan nama.

“Saya tertarik menghadiri karena narasi yg ditawarkan Tontey adalah soal propaganda. Masyarakat modern dikemudikan oleh propaganda: mulai dari film G30S PKI hingga penggambaran siksa neraka dalam komik Tatang S. Kita digiring untuk mempercayai tiap detil yg dipresentasikan sang seniman sebagai kebenaran.”

Mungkin banyak yang nggak tahu kalau acara ini ternyata ada notifikasinya di sebuah situs bernama whiteboardjournal.com. Di situs yang memuat acara-acara unik ini terdaftar sebuah acara yang diusung oleh Little Shop of Horrors dengan tema Makan Mayit. Acara ini berbentuk makan malam yang diadakan di sebuah kafe di Kemang Timur Raya, Jakarta pada Sabtu (25/2) lalu. Dalam poster tersebut, dimuat harga hidangan lengkap dengan pengisi hiburannya.

Saya bener2 ga habis pikir, bahkan sampai ga berani bayangin, apa yang ada di pikiran dan hati orang2 yang berada di balik event ‘dinner’ #makanmayit. Event ini udah 2x ternyata digelar di Jakarta, tapi saya baru tau kejadian yang kemarin. Gegara melihat postingan teman saya di Instagramnya yang menggambarkan sederet piring dengan boneka bayi plastik ‘dibedel’ jadi tempat makanan. Pertama ga ngeh saya pikir cover album musik, sampai teman2 di grup Whatsapp membahas event gila ini. Diskusi sana sini, baca ini itu, termasuk membaca hasil wawancara Vice.com dengan si seniman bernama Tontey ini, saya tetap ga paham, tetap ga masuk akal waras saya, dan tetap sedih atas kejadian ini

.

Sang seniman, yang saya tangkap, sebenarnya ingin menyampaikan pesan (entah apa) tentang kanibalisme terutama di Indonesia, menggunakan boneka bayi dibolongin sebagai ‘piring’ isi makanan, pudding fetus bayi, dan yang paling menyedihkan adalah mereka state kalau menggunakan ASI dan ekstrak keringat bayi di menu ‘dinner’nya.

.

Terlepas dari kalimat hiperbola, entah benar atau tidak, tindakan mereka2 itu SANGAT TIDAK SENSITIF dan kebablasan. Memang saya bodoh tentang seni, ga mendalami ilmu filsafat, but I have common sense, dan semua hal yang terkait dengan kejadian itu sangat tidak pantas. Kalau mereka bawa2 kebebasan berekspresi, it’s actually their rights mau memandang hidup seperti apa, tapi kalau sudah dibuat jadi konsumsi publik, apalagi orang2 yang ikut dalam pengalaman #makanmayit malam itu justru public figure, lain ceritanya. Sepertinya mereka lupa, di antara pengikutnya mungkin saja ada anak di bawah umur, remaja yang sedang mencari pegangan hidup, ibu yang berkali2 mengalami (maaf) keguguran, ibu yang bertahun2 mendambakan seorang anak, atau seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya yang masih bayi. Ini harus diSTOP! THIS IS SO WRONG! #protestmakanmayit

“Dengan datang ke Makan Mayit, saya ingin menguji diri saya; seberapa jauh saya bisa tergiring oleh propaganda meski saya datang dengan kesadaran penuh bahwa semua adalah rekayasa. Kebetulan, tema kanibalisme juga salah satu ketakutan terbesar saya. Hiii. Tapi kan saya tau bahwa kita tak akan benar2 makan orang.”

Meskipun sang penggagas bilang kalau ini adalah bagian dari seni, tetap saja sebagian besar masyarakat khususnya netizen gagal paham dengan seni seperti ini. Berbagai bentuk protes pun dilayangkan netizen di media sosial terkait acara Makan Mayit ini. Mereka menganggapnya tidak pantas. Apalagi isu ini sangat sensitif bagi para ibu, apalagi yang pernah keguguran, seperti yang ditulis akun Instagram @utiamanda ini:

Namun terkait acara tersebut, dikutip dari laman Kaskus.co.id,  seorang musisi bernama Kartika Jahja yang saat itu juga berpartisipasi menanggapi respons publik terkait event tersebut:

“Setiap orang punya kebebasan untuk menginterpretasikan karya seni, boleh suka boleh tidak. Kritik sangat penting bagi seniman, tapi buatlah sedikit effort untuk memahami sebelum berpendapat. Dengan berdialog, mungkin kita bisa berubah pikiran, atau sebaliknya si seniman yg mendapatkan perspektif baru. Kalo menghujat, ya gak dapat apa2. Hehehe.”

Penggagas dibalik acara makan malam yang kontroversial ini adalah Natasha Gabriella Tontey. Seniman satu ini dikenal sebagai pelaku seni yang memang punya ide-ide unik dan antimainstream, salah satunya perjamuan yang diadakan Sabtu lalu. Dengan tema Makan Mayit Natasha, para partisipan duduk di sebuah meja dengan hidangan yang ada dalam tatakan berbentuk bayi. Dalam perjamuan tersebut juga hadir Keenan Pearce dan pacarnya Gianni Fajri yang sempat mengunggah momen tersebut di Instagram. Semua hidangan memang berbau janin bayi. Dimulai dari tatakannya, makanan yang berbentuk otak hingga jelly yang berbentuk janin bayi.

“Bila demikian, saya sampaikan maaf saya dengan tulus. Seharusnya saya memberi semacam Trigger Warning atau penjelasan dalam caption yang lebih jelas. Oleh sebab itu, video dan foto perjamuan saya hapus untuk menghindari trauma trigger, namun bukan sebagai bentuk penyensoran terhadap karya Tontey.”

“Rupanya Tontey dan tim begitu mahir membangun atmosfer sehingga saya pun perlahan tergiring propagandanya bahwa saya sedang makan yg tabu-tabu meski sebenarnya makan tahu. Di situ saya belajar tentang efektifnya propaganda -audio visual khususnya- dalam membentuk opini dan perspektif.”

“Menanggapi ramainya respon tentang performance Makan Mayit karya Natasha Gabriela Tontey.”

“Namun to be fair, saya paham bila foto2nya terasa shocking bagi yg tidak hadir atau belum memahami konteksnya. Saya dan peserta lainnya memang memilih utk datang, dan kami siap dengan shockers yg dihadirkan. Namun ketika foto2 dipublikasikan di medsos, mungkin bisa jadi triggering untuk beberapa orang yang memiliki trauma.”

Baru-baru ini pengguna media sosial Indonesia dikejutkan dengan munculnya sebuah tagar (tanda pagar) #makanmayit. Nggak cuma di Instagram, tapi tagar tersebut juga ramai dibicarakan di Twitter. Dilansir dari laman kapanlagi.com, perbincangan tentang makan mayit ini ramai setelah Keenan Pearce mengunggah Instagram Stories yang memperlihatkan ia sedang memainkan jelly berwarna merah dan berbentuk janin bayi. Fenomena semacam ini tentu saja menimbulkan pro kontra bagi netizen. Apa sih sebenarnya #makanmayit itu?